Move On Muharram
Move On Muharram
Surabaya,
31 Agustus 2019
Ada (suasana) yang berbeda pada Sabtu sore di
bumi Al-Fithrah Surabaya. Selepas dibacakannya doa aurad setelah sholat
Ashar, para santri beserta para jamaah yang hadir beringsut merapat memenuhi
masjid dengan tertib. Para santri (putra-putri) yang biasanya sholat di tempat
terpisah, sore itu tampak berada di bagian kiri masjid berkubah biru itu.
Menjelang
senja, kegiatan doa bersama akan dilaksanakan. Dalam rangka memperingati akhir
tahun hijriyah (yang berujung di terbenamnya matahari Maghrib sesuai peredaran
bulan). Acara pada sore hari itu dimulai dengan pembacaan tawasul, istighotsah,
surat Yasin dan tahlil serta ditutup dengan membaca doa akhir tahun (dibaca
tiga kali) yang dipandu oleh Ust. Khoirudin, S.Ud dan ditirukan oleh seluruh
jamaah yang hadir.
Ada yang spesial dari isi doa akhir tahun. Di
sana, setelah memanjatkan sholawat kepada Rasulullah SAW, kita diajarkan untuk
menduduki maqam khauf dengan merasa lemah dan mengakui kekhilafan diri
karena telah melewatkan tahun yang akan berakhir ini dengan melanggar berbagai
larangan-Nya dan belum sepenuhnya bertaubat dengan sungguh-sungguh sehingga
menimbulkan ketidakridaan-Nya. Lantas kita dituntun untuk berangkat menuju raja’
dengan mengikrarkan kemahaluasan kasih sayang-Nya agar mengampuni kesalahan
yang telah diperbuat dan menerima sedikit amal yang telah berhasil dilakukan.
Sebuah
riwayat menyatakan bahwa begitu mendengar munajat manusia melalui doa ini,
setan merasa telah sia-sia (getun :Jawa) dalam menjalankan segenap
perjuangannya untuk menjerumuskan manusia karena dengan doa itu dosa manusia
yang telah dilakukannya selama satu tahun menjadi diampuni.
Di
penghujung acara, seluruh jamaah yang hadir mendapatkan masing-masing satu buah
dari berbagai jenis jajanan (pasar) yang telah disediakan oleh pengurus pondok,
kegiatan penjamuan seperti ini adalah bentuk napak tilas dari kejadian yang
dialami oleh Nabi Nuh dan kaumnya. Setelah diselamatkan dari banjir besar yang
waktu itu juga terjadi pada hari kesepuluh bulan Muharram (‘Asyuro), Nabi Nuh
pun mengintruksikan para pengikutnya untuk mengumpulkan sisa makanan yang
dimilikinya dan memasaknya. Mereka pun bersama-sama menikmati hidangan dan mensyukuri nikmat besar yang telah
diberikan-Nya.
Di
tempat dan waktu yang sama, selepas Maghrib agenda berikutnya kembali
diselenggarakan. Kali ini (setelah dilaksanakannya sholat Litsubutil iman yang
rutin dikerjakan setiap malamnya seusai Bakdiyah Maghrib,) dimulai dengan
sholat Tasbih empat rokaat berjamaah dengan dua kali salam dan dalam keadaan lampu dipadamkan demi menjaga
kekhusyu’an jamaah. Lalu dilanjutkan dengan dzikir fida’ selama kurang
lebih sepuluh menit, dan diakhiri dengan
membaca doa awal tahun bersama-sama, yang dalam hal ini, dipandu oleh Ust.
Luqman Bahrowi, S.Ud.
Sedikit
berbeda dengan kandungan isi doa akhir tahun, setelah memanjatkan sholawat dan
salam yang dilanjutkan dengan memanjakan diri kepada Allah SWT dengan disebutkannya
sifat-sifat keagungan-Nya. Melalui doa awal tahun kita dituntun untuk merasa
hina dan lemah dengan memohon perlindungan dari setan dan semua antek-anteknya,
serta pertolongan untuk menghadapi sifat pembangkang yang terkandung dalam
tubuh kita, dan juga memohon kemampuan agar mampu meluangkan segenap waktu
dalam mengabdikan diri kepada-Nya di tahun yang baru ini.
Sebagaimana
lazimnya segala bentuk kegiatan yang diselenggarakan di lingkungan Pondok
Pesantren Assalafi Al-Fithrah, acara di awal senja 1441 Hijriyah itu ditutup
dengan ramah tamah. Ratusan nampan nasi berlaukkan tahu khas masakan
petugas kantin Al-Fithrah yang kali ini berhiaskan sepotong daging ayam untuk
porsi empat orang disediakan guna menambah esensi keberkahan yang dibawa oleh
seluruh jamaah yang hadir dalam peringatan awal tahun itu. Tak lupa
diselenggarakan sholat Isya’ berjamah setelah kegiatan makan malam bersama
usai. Perjumpaan dalam majlis awal dan akhir tahun itu diakhiri dengan lantunan
lam yahtalim dan dipungkasi dengan surat
Al-Fatihah.
Jika
kita berkenan melihat ke belakang, kita akan mengakui betapa sudah sangat
dewasa sekali usia Islam sekarang ini. Namun yang perlu dijadikan pelajaran
adalah betapa berkesannya momentum hijrah Rasulullah SAW ke Madinah sehingga
Umar bin Khatab dan sahabat-sahabat lain menjadikannya sebagai acuan untuk
penentuan dimulainya kalender penanggalan Islam. Kesan yang timbul dari proses
hijrah yang dilakukan pada bulan Muharam telah terbukti membawa perbaikan
sehingga para sahabat memandangnya sebagai awal dimulainya (babak) sejarah
baru.
Hijrah
telah membawa begitu banyak perubahan. Dalam konteks kekinian lebih familiar
terdengar dengan istilah move on. Di berbagai kesempatan, Rasulullah
mendemontrasikan inovasi-inovasi yang ditauladankannya. Misalnya dalam
perbuatan pemindahan letak sorban dalam upacara permohonan diturunkannya hujan
yang dimaksudkan agar tercapainya maksud yang lebih baik dan upaya paling nyata
adalah kenekatan hijrah Rasulullah SAW dan para sahabat dengan segala
konsekuensinya. Konsep move on semacam inilah yang hendak disampaikan
oleh Islam kepada umatnya. Tidak satupun ajaran Islam memperbolehkan umatnya
untuk berputus asa. Jika tidak mendapati solusi pemecahan dengan satu cara,
masih ada banyak jalan lain yang siap terbuka apabila kita memiliki kemauan
yang kuat untuk menembusnya, “man jadda wajada”.
Berpindahanya
Rasulullah SAW dari Makah ke Madinah menjadi contoh terbesar tentang move on.
Menjalani sesuatu yang baru akan turut membawa kesemangatan dalam
mengarunginya. Ada suasana berbeda yang ditimbulkannya. Kiranya momentum tahun
baru hijriyah mampu menyadarkan kita untuk memulai babak baru yang jauh lebih
baik dari yang telah lalu. (MHz*)
*Penulis
adalah Mahasantri Ma’had Aly Al Fithrah Surabaya yang saat ini tengah duduk di
semester akhir. Pun, sebagai anggota pengurus di UKM Kepenulisan “Hikam”

Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapusPerlu ada yang direvisi kayaknya dalam tulisan terlampir di atas.
BalasHapus