Serba-Serbi Idul Adha di Ponpes Assalafi Al Fithrah Surabaya


Serba-Serbi Idul Adha
Di Ponpes Assalafi Al Fithrah Surabaya







            Surabaya, 11 Agustus 2019 –  Allahu Akbar Allahu Akbar Allahu Akbar....” Ponpes Assalafi Al Fithrah Surabaya diselimuti gema merdu ini sebagai simbolis perayaan Idul Adha. Hampir semalaman suntuk para santri menyuarakannya dengan jeda kegiatan wajib shalat Shubuh berjama’ah.
            Dua jam sebelum digelarnya shalat Ied, lapangan dengan ukuran (kurang lebih) 4 hektar, resmi dipadati manusia dengan kostum serupa. ;serba putih. Tepat pukul 06:30 WIB, shalat Idul Adha berjama’ah digelar. Dipimpin oleh Ustadz. H. Rosidi, M.Fil.I  (sebagai imam shalat Ied)  dan Ustadz. H. Zaenul Arif (sebagai Khatib.) Selanjutnya, setelah dilaksanakannya shalat Ied, para santri dan jama’ah Al Khidmah menuju pesarean yang berlokasi di posisi barat laut dari arah kanan masjid. Memang, hierarki kegiatan semacam ini merupakan rutinitas bagi mereka (para santri dan jamaah) untuk berziarah dan sowan ke (pesarean) pendiri ponpes Al Fithrah usai melaksanakan shalat Ied.
            Seperti yang sudah-sudah, Ponpes Assalafi Al Fithrah sangatlah totalitas dalam menyambut hari Raya Idul Adha. Baik dalam penyelenggaraan shalat Ied berjama’ah, juga saat prosesi penyembelihan.  Pesantren yang didirikan K.H. Ahmad Asrori Al Ishaqy ini sangat menganjurkan para santri yang menetap untuk melakukan bakar-bakar sate bersama.
            “Hal ini dianjurkan-dilakukan agar para santri ikut andil dalam menyambut hari raya Idul Adha dengan bahagia.” ujar salah satu pengurus dan jajaran asatidz Ponpes Al Fithrah.
            Tahun ini, Ponpes Assalafi Al Fithrah menurunkan 23 ekor sapi (dari para donatur) yang siap dikurbankan. 21 ekor sapi ditempatkan di Ponpes Al Fithrah Surabaya. 2 ekor sapi yang ditempatkan kembali di Ponpes Al Fithrah Gresik. Selain sapi, juga terdapat beberapa ekor kambing. Selain para santri yang mendapat jatah daging sekitar 3.5kg/kamar, masyarakat sekitar juga bisa membawa pulang hasil sembelihan dari Pondok Pesantren ini.
            Dalam prosesi kegiatan kurban, para santri senior bergotong royong dengan arek-arek Ukhsafi Copler Comunity. Mereka begitu antusias dan menggagahi penuh tugas mereka sebagai panitia.  Kaum muda yang masih kental dengan pembawaan kriminalitasnya ini berani meluangkan waktu mereka untuk ikut serta dan melancarkan kegiatan ini. Copler adalah sebutan familiar bagi komunitas kaum muda yang sudah menjadi mantan kriminal, dan telah bermakmum pada tuntunan kegiatan Al Khidmah, perkumpulan jama’ah di bawah pedoman bimbingan pendiri Ponpes Assalafi Al Fithrah. Gampangnya, pengikut dari pendiri Ponpes yang dikenal sebagai pondok tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah Utsmaniyah ini terdapat tiga jama’ah atau komunitas. Al Khidmah, sebuah perkumpulan jama’ah yang dulunya didirikan oleh K.H Ahmad Asrori Al Ishaqy. Sedangkan komunitas Ukhsafi adalah sebutan bagi komunitas alumni santri Al Fithrah, kaum agamis yang didirikan oleh Agus Ayn El-Yaqin Al Ishaqy, Gus Faiq dan Copler dikenal sebagai sebutan komunitas bagi para pemuda berandalan yang didirikan oleh Agus Nur El-Yaqin Al Ishaqy, Gus Nico. Menurut sejauh pengamatan, Ukhsafi dan Copler dapat diilustrasikan sebagai dua tentakel yang akhirnya menggiring para pengikutnya masuk ke dalam perkumpulan Al Khidmah. Dua komunitas ini bersatu dengan nama “Ukhsafi Copler Comunity.
            Keluarga Ndalem juga ikut memantau langsung proses penyembelihan hewan kurban, tampak di sebelah utara dari titik penyembelihan, Nyai Siera, Nyai Selvy, Gus Faiq, Gus Nico, dan Nyai Sela. “Hal Semacam ini juga pernah dilakukan oleh Romo Yai  Asrori R.A semasa sugeng-nya dulu, ;beliau selalu memantau dan mengontrol proses penyembelihan kurban” ujar salah satu Panitia kurban.
            Kelancaran prosesi kurban kali ini juga bekerja sama dengan pihak dinas kesehatan Kota Surabaya. Mereka kerap kali mengecek daging sapi yang baru saja dipotong, dan mencatat kualitas daging beserta bagian jerohan-nya. Selain itu, mereka juga mengecek proses pembungkusan daging yang akan diberikan kepada masyarakat.
            Berdasarkan himbauan menteri kesehatan Republik Indonesia, pembungkusan daging tidak boleh memakai kantong plastik berwarna hitam. “Tahun ini dan seterusnya, potongan daging harus dibungkus dengan wadah besek.” Tandas hasil rapat panitia kurban dan himbauan H. Agus Salim.
            “ji ro lu breettd..... ji ro lu breettd” suara ini akan terdengar asing bagi pembaca yang kurang memahami bahasa Jawa, dan belum pernah menyaksikan kekompakan mantan berandal ini dalam mengkhidmahkan diri saat menggelar majlis dzikir. Ya, kalimat di atas, adalah kalimat yang kerap kali dilontarkan oleh arek-arek Ukhsafi Copler Comunity ketika merobohkan seekor Sapi pada saat itu, untuk membangkitkan semangat mereka. Selain untuk memacu semangat, kalimat “Breettd” kerap dijadikan bahan pencair suasana. Juga kode sapa sebagai tanda saudara satu komunitas.
            Seluruh kegiatan dalam rangka penyambutan hari raya Idul Adha pada tahun ini berjalan lancar. Baik prosesi penyembelihan, proses pendistribusian sampai kegiatan bakar sate bersama. Dari data panitia yang tampak, jumlah seluruh panitia sekitar 50 personal. Singkatnya, keseluruhan panitia berkisar pada panitia kurban yang diketuai oleh Ustadz. Ali Mastur, dan panitia bakar sate bersama  diketuai oleh Ustadz. Deni.*

*Ainul Yaqin.
Penulis adalah santri Ma’had Aly Al Fithrah Surabaya, (smt7) sekaligus ketua UKM Hikam.

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Poligami dan Spiritualitas Dalam Konsep Pernikahan Islam

Islam Nusantara: Akulturasi Islam Dan Budaya Lokal